Bi Ani (Bangkalan), putri Aki Guru (Tasik):
BERBAHASA MADURA LOGAT SUNDA

Bi Ani dan Papaku saat bersilaturahmi di rumah Bi Ani Bangkalan, tadi siang (6/8)
Jakarta, 6/8/2009.
“Saya bisa, dan biasa bicara bahasa Madura. Tapi logat Sunda”, kata Bi Ani kepada yang menemani Papaku, di ruang tamu rumah Bi Ani yang besar dan hijau di Jalan Muhammad Toha Bangkalan Madura. Papaku diantar temannya, Pak Khazin dan Pak Dulloh dari Pengadilan Agama Bangkalan, berkunjung ke rumah Bi Ani, siang (6/8) tadi. “Walau hanya sebentar, tapi sangat berkesan”, kata Papaku padaku, setibanya dari Bandara Sukarno Hatta tadi.
Sudah bisa diduga, Bi Ani pasti mahir berbahasa Madura. Walaupun beliau kelahiran Tasik, 77 tahun yang lalu, namun lebih dari setengah umurnya, beliau menghabiskan waktunya di tanah Madura, yang masyarakatnya dikenal sangat teguh berpegang pada tradisi Islam.
“Ti kawit tahun 1962, Ade mah di Bangkalan teh”, kata Papaku menirukan kata-kata Bi Ani kepada Papaku. Waaaw, berarti sampai saat ini, beliau sudah 47 tahun tinggal di Madura. Lama juga ya.
Bi Ani selalu bilang “Ade” untuk menyebut dirinya, jika ngobrol dengan Papaku. Walau beliau umurnya jauh di atas umur Papaku, tapi statusnya adik Papaku, (dalam istilah Sunda ‘Kapi Rai’) sebab beliau adalah putri dari adik ayah Papaku.
“Kalau di lingkungan keluarga kami, walaupun umurnya sudah tua, seperti saya, tetap harus bilang ‘Kang’ kepada keluarga yang statusnya kakak, walupun umurnya jauh lebih muda. Supaya terasa akrab”, kata Bi Ani ‘someah’ kepada Pak Duloh, teman yang mengantar Papaku itu.
Pak Duloh berkata pada Papaku, Ibu Ani itu nampak jauh lebih muda dari umurnya. “Mungkin karena ceria terus, tanpa beban”, katanya lagi.

Acara Pernikahan Dede bin Rukandi, Putra Bi Jeje (rai Bi Ani) Dari kiri: Yusni (putra Bi Ani), Edit (mantu Bi Ani), Bi Elis (istri Mang Enuh kakak Bi Ani), Bi Ani, Dede (Mempelai Laki-laki), Mempelai Perempuan, Bi Ema (rai Bi Ani), Bi Ela (isteri Mang Yoyo), dan Mang Yoyo (adik Bi Ani)
Keluarga besar Bi Ani.
Bi Ani, nama lengkapnya SITI ANISA S MARLIANI, adalah putri ke3 dari 13 bersaudara, putra-putri Aki Emed Wiriaatmadja, adik dari ayah Papaku. Almarhum Aki Emed, yang dikenal sebagai Aki Guru, tinggal di Pancasila Tasikmalaya, pada tahun 1930 menikah dengan Enek R. Sariningrum (almh).
Dari 13 putra-putri Aki Guru, 5 di antaranya sudah wafat. Ke 13 putra-putri itu adalah sebagai berikut: Bi Yayah Rokayah*, Mang Mochamad Enuh*, Bi Siti Anisa S Marliani (Bi Ani), Bi Siti Emma Maemunah, Mang Yoyo Wiriaatmaja, Mang Rahmat*, Bi Hadijah*, Bi Siti Zainab Nursandi, Bi Yuyu*, Mang Oding Samsudin, Bi Ekes Sukaesih, Mang Toni Kastolani, dan Bi Nina Rafaldina. (Tanda * = sudah wafat).

Bi Ani, bersama putra-putri dan mantu pada acara pernikahan putra ke7nya, Dede Rendra Permana. Dari kiri: Anton Nugroho (putra ke1), Dian Widianti (putri ke5), Bi Ani, Dede Rendra P (mempelai), Ninik (mempelai, mantu), Heriyanto (putra ke2), Hendra Satiagraha (putra ke3), dan Yusni (putra ke4).
Bi Ani pada tahun 1955 nikah di Bandung dengan Mang Ahmad Munir, asal Bangkalan. Pada tahun 1962 Bi Ani dan keluarga pindah dari Bandung ke Bangkalan. Mang Munir wafat tahun 2000, terakhir sebagai Kepala SMAN 2 Bangkalan.
Bi Ani mempunyai 8 anak, 2 di antaranya wafat waktu kecil. Ke delapan anak itu adalah: Anton Nugroho, Heriyanto, Hendra Satiagraha, Yusni, Dian Widianti, Pipit Puspitasari (Almh), Dede Rendra Permana, dan Dini Diantini (Almh). Ke 6 putra-putri Bi Ani yang ada sudah pada nikah. Sampai saat ini, beliau sudah mempunyai 10 cucu Bi Ani.

Jembatan Suramadu.
Walau Papaku sering ke Surabaya, dan sekali kali ngajak Mamaku, aku atau kakak-kakakku secara bergantian, Papaku baru 2 kali berkunjung ke rumah Bi Ani. Tahun 1990 dengan Mamaku dan tadi sendirian. Malah aku belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Madura itu.
Kata Papaku, selama ini ke Madura itu “ribet”, harus nyeberang selat pakai feri. Di lautnya saja sebetulnya hanya 45 menit sampai 1 jam. Tapi, antrinya yang lama. Belum lagi naik dan turunnya dari feri yang juga harus antri.
Nah, sejak diresmikannya jembatan SURAMADU, tanggal 10 Juni 2009, oleh Presiden, perjalanan Surabaya-Madura jadi menyenangkan. Yang tadinya harus ditempuh 2-3 jam, kini hanya 5 sampai 10 menit di atas jembantannya.
Biayanyapun relatif lebih murah. Kalau dulu mengangkut mobil ke feri ongkosnya sekitar Rp 75.000,-, sekarang hanya bayar tol jembatan Rp 30.000,-. Ke“ribet”an akibat antri naik turun dari feri, juga kini dapat dihindari.
Jembatan SURAMADU yang panjangnya 5.438 m, lebar 30 m, ini merupakan jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Biaya pembangunannya menghabiskan 5,7 triliyun rupiah, dikerjakan selama 3 tahun.

Jadi, senang juga deh aku mendengarnya. Nanti kalau aku diajak lagi Papaku ke Surabaya, aku ingin melihat dan melintas jembatan SURAMADU yang merupakan kebanggaan Jawa Timur, terutama masyarakat Surabaya dan Madura. Dan, sudah tentu, aku ingin bersilaturahmi ke Bi Ani. Mudah-mudahan terlaksana. Amin Allohumma Amin. (Adli Minfadli Robby)